Pepatah Tradisional sebagai Cermin Filsafat Hidup: Studi Komporasi Pepatah Suku Dayak dan Asumanu
Main Article Content
Abstract
The youth of Lamaholot live amid a rapidly changing era marked by technological acceleration, globalization, and social transformation. These changes often create identity uncertainty and a growing distance from the cultural values that have long grounded community life. This paper seeks to explore the philosophical meaning of the Lamaholot maxim “Pana Ma’a Sare-Sare, Gawe Ma’a Lere-Lere, Lewo Tana Liko Lapak” as a reflection on how young people interpret and embody ancestral wisdom in the context of modernity. The maxim conveys teachings of courtesy, humility, social responsibility, reverence for ancestors, and awareness of the human bond with the land as a source of moral and spiritual strength. Using a qualitative approach through literature review and preliminary field data, this study examines the maxim as a moral compass that guides the formation of youth character. The values embedded within it can serve as a practical guide for ethical behavior, community engagement, and resilience in navigating modern challenges. This study remains reflective and exploratory in nature, aiming to develop a philosophical foundation that enables Lamaholot youth to remain rooted in local wisdom while embracing global progress and contemporary change.
Abstrak
Kearifan lokal yang berasal dari peribahasa tradisional Indonesia merupakan warisan budaya yang tidak hanya memiliki nilai sastra tetapi juga mengandung makna filosofis yang mendalam. Peribahasa-peribahasa ini, yang diwariskan dari generasi ke generasi, berfungsi sebagai pedoman hidup, sarana pendidikan moral, dan pengingat akan hubungan manusia dengan alam dan sesama. Dalam studi ini, dua peribahasa dari budaya yang berbeda diteliti dan dibandingkan untuk menemukan pesan universal yang berlaku untuk kehidupan modern. Kedua peribahasa tersebut adalah peribahasa Dayak "Tege Danum Tege Lauk," yang berarti "Di mana ada air, di situ ada ikan," dan peribahasa Asumanu "Sirisu Malo nu'u ata, Ma Malo nu'u dato," yang berarti "Bekerja seperti seorang hamba, makan seperti seorang raja."Relevansi kedua peribahasa ini sangat jelas terlihat dalam konteks modern. Peribahasa Dayak dapat dibaca sebagai kritik terhadap kerusakan lingkungan yang semakin memburuk akibat eksploitasi berlebihan. Generasi muda seringkali terjebak dalam gaya hidup tanpa kesadaran ekologis, padahal kelangsungan hidup manusia sangat bergantung pada keberlanjutan lingkungan. Sementara itu, peribahasa Asumanu menyoroti masalah kepuasan instan dan kemerosotan etos kerja keras dalam masyarakat saat ini. Di era modern, banyak orang menginginkan hasil cepat tanpa melalui proses yang panjang. Peribahasa ini mengingatkan kita bahwa hasil yang berharga hanya dapat dicapai melalui dedikasi, kesabaran, dan ketekunan.
Downloads
Article Details
Issue
Section

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
Proceedings of the National Conference on Indonesian Philosophy and Theology is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
You are free to:
- Share — copy and redistribute the material in any medium or format.
- Adapt — remix, transform, and build upon the material for any purpose, even commercially.
Under the following terms:
- Attribution — You must give appropriate credit, provide a link to the license, and indicate if changes were made. You may do so in any reasonable manner, but not in any way that suggests the licensor endorses you or your use.
- ShareAlike — If you remix, transform, or build upon the material, you must distribute your contributions under the same license as the original.
No additional restrictions — You may not apply legal terms or technological measures that legally restrict others from doing anything the license permits.
How to Cite
References
Dari Buku
Ahimsa-Putra, Heddy Shri. Filsafat Kebudayaan dan Kearifan Lokal. Yogyakarta: Ombak, 2015.
Aristoteles. Nicomachean Ethics. Terj. Terence Irwin. Indianapolis: Hackett Publishing, 1985.
Geertz, Clifford. The Interpretation of Cultures. New York: Basic Books, 1973.
Fung, Yu-lan. A Short History of Chinese Philosophy. New York: Free Press, 1948.
Jonas, Hans. The Imperative of Responsibility: In Search of an Ethics for the Technological Age. Chicago: University of Chicago Press, 1984.
Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Pepatah Petitih dalam Bahasa Dayak Ngaju. Jakarta: Kemendikbud, 1997.
Dari Jurnal Ilmiah
Almos, Rona, Pramono, & Reniwati. “Pantun dan Pepatah-Petitih Minangkabau Berleksikon Flora dan Fauna.” Jurnal Adabiyyāt 17, no. 2 (2019): 193–210.
Bagus Hermanto, A. “Revitalisasi Filsafat Lokal Sebagai Basis Pembangunan Karakter Bangsa.” Jurnal Filsafat 30, no. 1 (2022): 19–32.
Basori, B., Lina Herlinawati, Nandang Rusnandar, & T. Dibyo Harsono. “Nilai-Nilai Perilaku Terhadap Sesama Manusia yang Tercermin Dalam Petatah-Petitih Dayak Maanyan.” Jurnal Tradisi Lisan Nusantara 12, no. 1 (2023): 27–36.
Eka Saputra, E. “Relevansi Filsafat Eksistensialisme dalam Kehidupan Modern.” Journal of Humanities, Social Sciences, and Education 1, no. 3 (2025): 119–130.
Lontoh, F. R. “Krisis Modernitas dan Kearifan Tradisional Nusantara.” Jurnal Humaniora dan Budaya 9, no. 2 (2023): 97–110.
Sawitri, I., dkk. “Nilai Karakter pada Peribahasa, Pepatah dan Saloka Jawa.” Jurnal Kawruh 4, No. 2 (2021): 87–98.
Widiastuti, Asti, et al. “Literasi Budaya dan Kewargaan Sebagai Upaya Mempertahankan Kebudayaan di Tengah Kemajemukan Masyarakat Indonesia.” Semantik: Jurnal Riset Ilmu Pendidikan, Bahasa dan Budaya 2, no. 1 (2024): 80–95.