Konsep Kesejahteraan dalam Umpasa Perkawinan Batak: Sebuah Kajian Terhadap Fenomena Childfree
Main Article Content
Abstract
For the Toba Batak community, the presence of children in marriage symbolizes well-being, as reflected in the 3H philosophy (Hamoraon—wealth, Hagabeon—descendants, and Hasangapon—honor). However, the contemporary childfree phenomenon reflects a shift in perspective by viewing children as obstacles to personal well-being. This study examines the relevance of Toba Batak umpasa (traditional sayings) to the childfree phenomenon in contemporary marriage. Using a qualitative descriptive method, the study draws on a literature review, observations of Instagram content, and interviews with Toba Batak traditional leaders. The findings show that umpasa not only affirms the importance of descendants as a symbol of well-being but also serves as an ethical guide for maintaining social relationships and kinship. Despite changing social values, the 3H philosophy remains relevant as an ethical foundation for understanding well-being and marital life in the contemporary era.
Abstrak
Bagi masyarakat Batak Toba, kehadiran anak merupakan simbol kesejahteraan yang berlandaskan filosofi 3H (Hamoraon, Hagabeon, dan Hasangapon). Namun, fenomena childfree menunjukkan pergeseran pandangan yang menganggap anak sebagai penghalang kesejahteraan. Penelitian ini bertujuan menganalisis relevansi nilai-nilai umpasa Batak Toba terhadap fenomena childfree dalam konteks perkawinan kontemporer. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif melalui studi literatur, observasi media sosial Instagram, dan wawancara dengan tokoh adat Batak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa umpasa tidak hanya menegaskan pentingnya keturunan sebagai simbol kesejahteraan, tetapi juga berfungsi sebagai pedoman etis dalam membangun relasi sosial dan kekerabatan. Meskipun terjadi pergeseran nilai, filosofi 3H tetap relevan sebagai landasan etis dalam memahami makna kesejahteraan dan kehidupan perkawinan di era kontemporer.
Downloads
Article Details
Issue
Section

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
Proceedings of the National Conference on Indonesian Philosophy and Theology is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
You are free to:
- Share — copy and redistribute the material in any medium or format.
- Adapt — remix, transform, and build upon the material for any purpose, even commercially.
Under the following terms:
- Attribution — You must give appropriate credit, provide a link to the license, and indicate if changes were made. You may do so in any reasonable manner, but not in any way that suggests the licensor endorses you or your use.
- ShareAlike — If you remix, transform, or build upon the material, you must distribute your contributions under the same license as the original.
No additional restrictions — You may not apply legal terms or technological measures that legally restrict others from doing anything the license permits.
How to Cite
References
Barus, Debi Angelina Br. “Work Value, Tingkat Pendidikan Budaya Etnis Batak Toba pada Anggota Satuan Brigade Mobile Kepolisian Daerah Sumatera Utara (Kajian Indigeneous).” Tabularasa: Jurnal Ilmiah Magister Psikologi 1, no. 1 (2019): 12.
Brahmandika, Leonard. “Fenomena Childfree di Pernikahan Masa Kini.” AGGIORNAMENTO: Jurnal Filsafat-Teologi Kontekstual 3, no. 1 (2022): 107.
Daniel, Lova, dan Sulistyowati. “Makna Kultural Umpasa pada Upacara Pernikahan Batak Toba di Samarinda.” Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Budaya 9, no. 1 (Januari 2025): 100.
Harvina, Fariani, Dharma Kelana Putra, Hotli Simanjuntak, dan Deni Sihotang. Dalihan Na Tolu pada Masyarakat Batak Toba di Kota Medan. Medan: Balai Pelestarian Nilai Budaya Aceh, 2017.
Hutabarat, Ismarini, dan Lia Khalisa. “Kearifan Lokal dalam Umpasa Batak Toba.” Jurnal Littera: Fakultas Sastra Darma Agung 1, no. 2 (Oktober 2019): 229–237.
Liana, Sharon Amanda, Jap Tji Beng, dan Sri Tiatri. “How Indonesian Women Choose to Be Childfree in Patriarchy Culture.” International Journal of Application on Social Science and Humanities 1, no. 4 (2023): 304.
Pangaribuan, Rotua. “Umpasa in Batak Toba Wedding Ceremony in Medan: Meaning and Tradition of Berpantun.” Journal of English Language and Education 9, no. 47 (2024).
Purnama, Anisa Sabrina, dan Sri Hilmi Pujihartati. “Konstruksi Sosial Mahasiswa dalam Fenomena Childfree dan Konsep Keluarga Ideal di Indonesia.” Journal of Development and Social Change 7, no. 2 (2024): 15–16.
Sembiring, Feriel Amelia, dan Rholand Muary. “Fenomena Childfree dalam Perspektif Masyarakat Batak.” Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Malikussaleh (JSPM) 4, no. 1 (Januari–Juni 2023): 22–35.
Silalahi, Ulber. Birokrasi Tradisional dari Satu Kerajaan di Sumatera: Harajaon Batak Toba. Bandung: Universitas Katolik Parahyangan, 2012.
Malau, Tresia Anggraini, Deffi Indah Lestari, Nuriati Lubis, dan Frinawati Barus. “Analisis Makna Denotatif dan Konotatif pada Umpasa Pernikahan Batak Toba.” Alfabeta: Jurnal Bahasa, Sastra dan Pembelajarannya 4, no. 2 (2021): 45.
Pardosi, Jhonson. “Makna Simbolik Umpasa, Sinamot, dan Ulos pada Adat Perkawinan Batak Toba.” Jurnal Ilmiah Bahasa dan Sastra 4, no. 2 (2008): 106.
Purnama, Anisa Sabrina, dan Sri Hilmi Pujihartati. “Konstruksi Sosial Mahasiswa dalam Fenomena Childfree dan Konsep Keluarga Ideal di Indonesia.” Journal of Development and Social Change 7, no. 2 (2024): 15–16.
Simamora, Alexander Hamonangan, I Wayan Suastra, dan Ida Bagus Putu Arnyana. “Filosofi Budaya Batak Toba dalam Dunia Pendidikan.” Proceedings Series of Educational Studies: Seminar Nasional Teknologi Pembelajaran (SNASTEP) (2023): 196–197.
Tampubolon, Novitasari, Junifer Siregar, Marlina Agkris Tambunan, Jumaria Sirait, dan Immanuel Doclas Belmondo Silitonga. “Makna Mambosuri sebagai Kearifan Lokal Budaya Batak Toba (Kajian Semiotika).” Jurnal Pendidikan, Sains, Sosial, dan Agama 9, no. 2 (2025): 196–198