Nilai Kebersamaan dalam Petuah Nusantara: Perbandingan Banyu Panguripan (Jawa) dan Sedulang Setudung (Banyuasin)

Main Article Content

Marselinus Anandan Wenpi
Maria Tridinanti
Monica Angela Natania

Abstract

In Indonesia, the spirit of individualism has become increasingly apparent amid the development of modern life. In such a context, certain local wisdoms continue to preserve the spirit of togetherness. Two examples are the Javanese saying “Wong urip iku kudu aweh banyu panguripan” (“a person must give the water of life”) and the Banyuasin proverb “Sedulang setudung” (“one tray, one cover”). Although these proverbs originate from different cultural backgrounds, both express values of solidarity and social concern. This study aims to examine the shared values contained in these two sayings and explore their relevance for contemporary life. This research employs a qualitative-descriptive approach through literature review and comparative analysis. The Javanese proverb is interpreted from the perspective of social ethics and the tradition of hospitality within Javanese society, while the Banyuasin proverb is analyzed through the lens of community solidarity and the spirit of gotong royong (mutual cooperation) among the Banyuasin people. Both proverbs emphasize the importance of contributing tangible benefits to others regardless of background, while living in togetherness that strengthens communal unity. Despite their cultural differences, both sayings convey universal values of fellowship, compassion, and social harmony.


Abstrak


Di Indonesia, semangat individualis semakin terasa di tengah perkembangan kehidupan modern. Di tengah situasi demikian, ada kearifan lokal yang tetap menjaga semangat kebersamaan. Dua di antaranya adalah petuah Jawa “Wong urip iku kudu aweh banyu panguripan” (orang hidup harus memberi air kehidupan) dan petuah Banyuasin “Sedulang setudung” (satu dulang satu tudung). Kedua petuah ini lahir dari konteks budaya yang berbeda, namun sama-sama menawarkan nilai solidaritas dan kepedulian sosial. Penelitian ini hendak mengkaji persamaan nilai yang terkandung dalam kedua petuah tersebut serta menemukan relevansinya bagi kehidupan modern saat ini. Dalam penelitian ini, kami menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif sebagai metode dengan studi pustaka serta analisis komparatif. Petuah Jawa ditafsirkan melalui perspektif etika sosial dan tradisi keramahtamahan masyarakat Jawa. Sedangkan petuah Banyuasin dikaji dalam semangat solidaritas komunitas dan juga semangat gotong royong pada masyarakat Banyuasin. Kedua pepatah tersebut, menekankan pentingnya memberi manfaat nyata bagi banyak orang tanpa membedakan latar belakang sekaligus hidup dalam kebersamaan yang menekankan persatuan komunitas. Perbedaan konteks budaya tidak menghalangi kedua petuah tersebut untuk menawarkan nilai universal mengenai kebersamaan, kepedulian, dan harmoni sosial.

Downloads

Download data is not yet available.

Article Details

Section

Articles

How to Cite

Nilai Kebersamaan dalam Petuah Nusantara: Perbandingan Banyu Panguripan (Jawa) dan Sedulang Setudung (Banyuasin). (2026). Proceedings of The National Conference on Indonesian Philosophy and Theology, 4(1), 247-263. https://doi.org/10.24071/snf.4.1.279

References

Sumber Buku

Emile Durkheim, The Division of Labour in Society, trans. W.D. Halls (New York: Free Press, 1984).

Levinas, Emmanuel. Totality and Infinity: An Essay on Exteriority. Pittsburgh: Duquesne University Press, 1969.

Magnis-Suseno, Franz. Etika Jawa: Sebuah Analisa Falsafi tentang Kebijaksanaan Hidup Jawa. Jakarta: Gramedia, 1997.

Sastroatmodjo, S. Filsafat Hidup Jawa. Semarang: Effhar, 2003.

Suwardi Endraswara, Falsafah Hidup Jawa (Yogyakarta: Narasi, 2006).

Suyono, R. P. Falsafah Hidup Orang Jawa: Dalam Ungkapan dan Tindakan Sehari-hari. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2017.

Sumber Jurnal

Hariadi dkk, “SEDULANG SETUDUNG: Tradisi Sedekahan di Desa Gelebak Dalam Kabupaten Banyuasin”, Majalah Ilmiah Tabuah: Ta’limat, Budaya, Agama dan Humaniora, Vol. 24 No. 2 (Juli-Desember 2020), hal. 130-139 https://doi.org/10.37108/tabuah.v24i2.312

Kosmas Sobon, Timoteus Ata Leu Ehaq, “Implikasi Etika Solidaritas Knud Ejler Løgstrup Terhadap Korban Virus Covid-19 Di Indonesia”, Jurnal Filsafat, Vol. 31, No. 1, (Februari 2021), hal. 105-129 https://doi.org: 10.22146/jf.57830

Yaspis Edgar N. Funay, “Indonesia dalam Pusaran Masa Pandemi: Strategi Solidaritas Sosial Berbasis Nilai Tradisi Lokal”, Jurnal Sosiologi Agama Indonesia, Vol. 1 No. 2 (Juli 2020), hal. 107-120 https://doi.org/10.22373/jsai.v1i2.509

Ahmad Zamhari, dkk., “Keberadaan Adat Sedulang Setudung di Desa Ujung Tanjung Sebagai Warisan Budaya”, Central Publisher, Vol. 1 No. 5 (2023), hal. 414-421 https://doi.org/10.60145/jcp.v1i5.109

Arif Rahman Gani, dkk, “Adat Sedulang Setudung di Desa Gelebak Dalam Banyuasin, 1999-2019”, Jurnal Ilmu Sejarah dan Pendidikan, Vol. 6 No. 2 (Desember 2022), hal. 169-183 https://doi.org/10.1016/j.sciaf.2019.e00184

Tolak Totok, “Aktualisasi Nilai-Nilai Kearifan Lokal dalam Pendidikan Kewarganegaraan sebagai Peneguh Karakter Kebangsaan”, Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan, Vol. 8, no. 2 (November 2018), hal. 1-22 https://dx.doi.org/10.20527/kewarganegaraan.v8i2.4314