Kompas Navigasi di Era Globalisasi: Nilai-Nilai Anti-Konflik dalam Pepatah Adat Flores (Manggarai dan Lio)

Main Article Content

Yohanes Suryobto Kami
Vinsensius Alfa
Didimus Bani Doda

Abstract

This study critically analyzes two traditional Flores proverbs that form the foundation of social resilience: the Manggarai proverb “Nai ca anggit, tuka ca leleng, kudu neka woleng wintuk” and the Lio tribe proverb “bou ngere uwi onu mondo ngere tewu owo, boka ngere ki bere ngere ae”. The Manggarai proverb establishes the principle of anti-conflict through a philosophy of brotherhood that transcends individual egoism, using biological symbolism (breath and womb) as the basis for social bonds. The Lio proverb operationalizes the value of togetherness through the natural symbols of yams (collective energy), sugar cane (inseparable solidarity), reeds (mutual protection), and water (continuity of life). These two proverbs are not merely cultural heritage, but a blueprint for diversity-based social development that offers an alternative model of tolerance in the era of globalization. However, a critical challenge arises: how to transform this oral wisdom into concrete practices that are relevant to the digital generation without losing its philosophical essence?


Abstrak


Kajian ini menganalisis secara kritis dua pepatah adat Flores yang menjadi fondasi ketahanan sosial: pepatah Manggarai "Nai ca anggit, tuka ca leleng, kudu neka woleng wintuk" dan pepatah suku Lio "bou ngere uwi onu mondo ngere tewu owo, boka ngere ki bere ngere ae". Pepatah Manggarai membangun prinsip anti-konflik melalui filosofi persaudaraan yang melampaui egoisme individual, menggunakan simbolisme biologis (nafas dan rahim) sebagai basis ikatan sosial. Pepatah Lio mengoperasionalisasikan nilai kebersamaan melalui simbol alam ubi (energi kolektif), tebu (solidaritas yang tidak terpisahkan), alang-alang (perlindungan bersama), dan air (kesinambungan hidup). Kedua pepatah ini bukan sekadar warisan budaya, melainkan cetak biru pembangunan sosial berbasis kemajemukan yang menawarkan alternatif model toleransi di era globalisasi. Namun, tantangan kritis muncul: bagaimana mentransformasi kearifan oral ini menjadi praktik konkret yang relevan bagi generasi digital tanpa kehilangan esensi filosofisnya?

Downloads

Download data is not yet available.

Article Details

Section

Articles

How to Cite

Kompas Navigasi di Era Globalisasi: Nilai-Nilai Anti-Konflik dalam Pepatah Adat Flores (Manggarai dan Lio). (2026). Proceedings of The National Conference on Indonesian Philosophy and Theology, 4(1), 333-350. https://doi.org/10.24071/snf.4.1.285

References

Pendidikan karakter berbasis nilai kemanusiaan ikhtiar mengatasi konflik social keagamaan di Indonesia. Jurnal penelitian dan kajian keagamaan . No. 1, Juni 2011 Vol. 36, No. 2, November 2012 hal 31-42

Simon Untara, Herlina Yoka Roida, “mengkritisi arus globalisasi” Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya 2016 hal: 247-170

Fransiskus Bustan, Arni Djenita Ludji, “The Features of Human Metaphor Regarding Social Solidarity In Family Realm in Manggarai Language.” International Journal of Arts and Social Science, Vol. 7 No.5, May 2024 hal: 150-157

Alexander Home Kabelen, Fransiskus Bustan dkk, “THE METAPHORICAL EXPRESSIONS OF MECHANICAL SOLIDARITY IN MANGGARAI SPEECH COMMUNITY” SPARKLE Journal of Language, Education and Culture Vol. 3, No. 1, December 2023 hal: 1-8

Fadhilah Dwi Widianti, “DAMPAK GLOBALISASI DI NEGARA INDONESIA” Jurnal Inovasi Sektor Publik Vol. 2, No.1, 2022 hal : 73-94

Maria Magdalena Rini, “Analisis Nilai Pendidikan Karakter Dalam Pelepata Pada Masyarakat Lio Kabupaten Ende.” INNOVATIVE: Journal Of Social Science Research Vol. 4, No. 1 Tahun 2024 Page 8611-8619

Alfarabi, Aldila Vidianingtyas Utami, “PERAN KOMUNIKASI ANTARBUDAYA DALAM MENGATASI KONFLIK SOSIAL DI MASYARAKAT MULTIKULTURAL (STUDI PADA MASYARAKAT KECAMATAN SUKAKARYA KABUPATEN MUSI RAWAS)” Jurnal Khabar: Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol. 7 No.1 Juni 2025 235-245

Yosef Keladu, Yohana Sulastri Dinata,” TARIAN GAWI SEBAGAI MEDIA REKONSILIASI SOSIAL ANTAR UMAT BERAGAMA DI DESA AEWORA KABUPATEN ENDE.” Jurnal Transformasi Pendidikan Berkelanjutan Vol. 6, No. 3 Agustus 2025

Faishal, Muhammad. “Reaktualisasi Filsafat Sebagai Landasan Nilai Budaya Dalam Menghadapi Transformasi Digital Masyarakat Indonesia.” Kamaya: Jurnal Ilmu Agama 8, no. 2 (2025): 246–54. https://doi.org/10.37329/kamaya.v8i2.4404.

Mukhtar, Mukhlis A, Lisa Dwi Wulandari, and Herry Santosa. Struktur Ruang Budaya Arsitektur Tradisional Sa’o Ria Di Permukiman Adat Suku Lio Dusun Nuaone Ende. 2021.

“RRI.Co.Id - Ngeta, Kuliner Ende Yang Sarat Rasa Dan Tradisi.” Accessed October 17, 2025. https://rri.co.id/ende/kuliner/1387218/ngeta-kuliner-ende-yang-sarat-rasa-dan-tradisi.

bapak philipus kami, wawancara dengan ketua Masyarakat adat Nusantara wilayah Nusa Bunga, tanggal 6 September 2025