Studi Komparatif Pepatah Kearifan Lokal: Kritik atas Gempuran Modernitas dan Individualisme

Main Article Content

Antonius Guntramus Plewang
Kefas Mahesa Prananta

Abstract

Modernity has brought about significant changes in the socio-cultural order, including a shift in values that has led to the emergence of individualism. This phenomenon is increasingly evident in the concept of the unencumbered self, which is the understanding of individuals who are detached from the bonds of identity, relationships, and tradition, thereby weakening social cohesion. This study aims to offer an alternative perspective to critique the threats of modernity and individualism through local wisdom proverbs in Indonesia. Using a literature review and comparative approach, this study examines the imperative ethical values of the Javanese proverb Eling Lan Waspada and the Sikka (Maumere) proverb Uhe Die Dang Hading. This study affirms that local wisdom values are relevant in anticipating the onslaught of modernity, while strengthening social cohesion amid growing individualism.


Abstrak


Modernitas memunculkan perubahan signifikan dalam tatanan sosial-budaya, termasuk pergeseran nilai yang mendorong lahirnya individualisme. Fenomena ini semakin menyata dalam  konsep unencumbered self, yakni pemahaman tentang individu yang terlepas dari ikatan identitas, relasi, dan tradisi, sehingga melemahkan kohesi sosial. Penelitian ini bertujuan menawarkan perspektif alternatif untuk mengkritisi ancaman modernitas dan individualisme melalui pepatah kearifan lokal di Indonesia. Dengan menggunakan pendekatan analisis pustaka dan komparatif, penelitian ini  mengkaji nilai-nilai imperatif etis dari pepatah Jawa Eling Lan Waspada dan pepatah Sikka (Maumere) Uhe Die Dang Hading. Penelitian ini menegaskan bahwa nilai-nilai kearifan lokal memiliki relevansi dalam mengantisipasi gempuran modernitas, sekaligus memperkuat kohesi sosial di tengah menguatnya sikap individualisme.

Downloads

Download data is not yet available.

Article Details

Section

Articles

How to Cite

Studi Komparatif Pepatah Kearifan Lokal: Kritik atas Gempuran Modernitas dan Individualisme. (2026). Proceedings of The National Conference on Indonesian Philosophy and Theology, 4(1), 368-385. https://doi.org/10.24071/snf.4.1.287

References

Ashri, Rahmatia, dkk. “Individualisme Gen Z sebagai Tantangan Kolektivisme di Indonesia.” Journal of Society Bridge 2, no. 3 (2024): 186–96. https://doi.org/10.55314/xxxx.

Bauman, Zygmunt. Liquid Modernity. Cambridge: Polity Press, 2000.

Budi Hardiman, F. Pemikiran Modern dari Machiaveli sampai Nietzsche. Yogyakarta: PT Kanisius, 2019.

Geertz, Clifford. The Interpretation of Cultures. New York: Basic Books, 1973.

Gisela, Nuwa, dan Wahyuningsih. “Resolusi Konflik Berbasis Kearifan Lokal Sikka: Konstruksi Prinsip Negosiasi dalam Perkawinan Adat Krowe di Kabupaten Sikka.” Jurnal Genesis Indonesia 3, no. 2 (2024): 89–99. https://doi.org/10.56741/jgi.v3i02.570 .

Harudin, M., dkk. “Merawat Keberagaman Menjaga Toleransi: Meneropong Peran Forum Kerukunan Umat Beragama Kabupaten Sikka.” Academy of Education Journal 11, no. 2 (2020): 168-81. https://dx.doi.org/10.47200/aoej.v11i2.399.

Kajian Sastra Klasik. “Kajian Kalatidha (7): Luwih Begja Kang Eling Waspada.” Diakses 14 Oktober 2025. https://bambangkhusenalmarie.wordpress.com/2017/10/05/kajian-kalatidha-7-luwih-begja-kang-eling-waspada/.

Koentjaraningrat. Kebudayaan, Mentalitet dan Pembangunan. Jakarta: Gramedia, 2009.

Kuntowijoyo. Paradigma Islam: Interpretasi untuk Aksi. Bandung: Mizan, 1991.

Kurniawan, Ryan. “Konsep Liquid Life Menurut Zygmunt Bauman.” Seri Mitra 3, no. 1 (2024): 186-96. https://doi.org/10.53396/jsm.v3i1.

Magnis-Suseno, Franz. Etika Jawa: Sebuah Analisa Falsafi tentang Kebijaksanaan Hidup Jawa. Jakarta: Gramedia, 1997.

Moleong, Lexy J. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2019.

Muhamad, Arif. Individualisme Global di Indonesia. Kediri: PT Stain, 2015.

Muljono, Iwan. “Serat Kalatidha.” Diakses 13 Oktober 2025. https://iwanmuljono.blogspot.com/p/serat-kalatidha.html.

Natsir, Rodja Abdul, dkk. “Upacara Huler Wair Sebagai Nilai Kebajikan Lokal pada Masyarakat di Kabupaten Sikka.” Jurnal Antropocene 3, no. 3 (2023): 76–83. https://doi.org/10.56393/ANTROPOCENE.V2I8.927.

Rayhan, Muhammad, dkk. “Globalisasi Budaya dan Media Digital: Dilema antara Modernisasi dan Pelestarian Budaya Lokal.” Indonesian Culture and Religion Issues 2, no. 3 (2025): 1-14. https://doi.org/10.47134/diksima.v2i3.218.

Sandel, Michael J. Liberalism and the Limits of Justice. Cambridge: Cambridge University Press, 1998.

———. “The Procedural Republic and the Unencumbered Self.” Political Theory 12, no. 1 (1984): 81–96.

Sarang, Rikardus Kristian, dkk. “Modernitas dan Dislokasi Budaya: Studi tentang Hilangnya Praktik Kearifan Lokal pada Masyarakat Asmat.” Jurnal Jumpa 13, no. 1 (2025): 73–92. https://doi.org/10.60011/jumpa.v13i1.

Schuon, Frithjof. The Transcendent Unity of Religions. Wheaton: Quest Books, 1993.

Seng, Anselmus, dkk. “Symbolism Used in Sikka Krowe’s Wedding Ceremony of Maumere, East Nusa Tenggara.” Jurnal Ilmiah Bahasa dan Sastra 2, no. 2 (2015): 75–92. https://doi.org/10.21067/JIBS.V2I2.1145.

Sugiharto, Bambang. Kebudayaan dan Kondisi Post-Tradisi. Yogyakarta: PT Kanisius, 2019.

Tan, Petrus. “Tirani Meritokrasi dan Reimajinasi Solidaritas: Sebuah Kajian Berdasarkan Perspektif Michael Sandel.” Jurnal Ledalero 22, no. 1 (2023): 1–19. http://dx.doi.org/10.31385/jl.v22i1.332.1-19.

Taylor, Charles. The Ethics of Authenticity. Cambridge: Harvard University Press, 1991.

Toulmin, Stephen. Cosmopolis: The Hidden Agenda of Modernity. Chicago: University of Chicago Press, 1990.

Weber, Max. The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism. London: Routledge, 2001.